Gambaran Bank Syariah Saat Ini
Perkembangan bank syariah di Indonesia sangat luar biasa, baik dari segi jumlah bank, jaringan, nasabah, dan jumlah aset. Tumbuh kembang bank syariah di Indonesia diawali dengan berdirinya Bank Muamalat pada tahun 1992. Pada pertengahan tahun 2003, sudah terdapat 8 bank syariah dengan total aset Rp.5,4 triliun. Saat ini (2009) terdapat 30 bank syariah dengan total aset mencapai lebih dari Rp.50 triliun. Jumlah bank dan total aset tersebut di luar Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS).
Jumlah jaringan bank syariah (termasuk BPRS) saat ini mencapai 1.104 kantor, meningkat 2 kali lipat dibandingkan dengan jumlah jaringan pada tahun 2005 yang masih sekitar 550 kantor. Sementara untuk Office Channeling (Unit Pelayanan Syariah di bank konvensional) mengalami peningkatan tajam dari 456 kantor pada tahun 2006 menjadi 1.618 kantor saat ini. Jumlah tersebut belum termasuk kantor pos yang menjadi Gerai Muamalat.
Seiring dengan perkembangan jaringan, kebutuhan SDM juga semakin meningkat. Tercatat ada 5.996 SDM yang bekerja di perbankan syariah pada tahun 2005, dan meningkat lebih dari 2 kali lipat pada tahun ini menjadi 13.385. Untuk biaya pendidikan SDM bank syariah, rata-rata mencapai Rp.20 miliar (dari tahun 2005 – 2008). Saat ini bank syariah telah menghabiskan dana Rp.10 miliar untuk pendidikan SDM.
Biaya promosi bank syariah dari tahun ke tahun juga mengalami peningkatan. Pada akhir tahun 2005, bank syariah menghabiskan Rp.68 miliar untuk biaya promosi, kemudian pada akhir 2006 mencapai Rp.91 miliar, pada akhir tahun 2007 mencapai Rp.137 miliar, dan pada akhir tahun 2008 mencapai Rp.184 miliar. Saat ini (data April 2009), bank syariah telah mengeluarkan biaya promosi sebesar Rp.47 miliar. Semoga bank syariah semakin concern untuk meningkatkan biaya, serta strategi promosi dan komunikasi yang tepat.
Pelan tapi pasti, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun oleh bank syariah meningkat 2 kali lipat menjadi Rp.39 triliun dibandingkan dengan DPK tahun 2005 yang mencapai Rp.15,6 triliun. DPK BPRS juga mengalami peningkatan dari Rp.334 miliar pada tahun 2005 menjadi Rp.1,1 triliun. DPK ini meliputi Giro (Wadiah), Tabungan, dan Deposito. Penempatan pada Bank Indonesia, saat ini mencapai Rp.6 miliar (meliputi Giro Wadiah dan Surat Berharga Syariah Indonesia). Semantara Surat Berharga yang dimiliki bank syariah (meliputi Surat Berharga Pasar Keuangan Syariah dan Surat Berharga Pasar Modal Syariah) mencapai Rp.2,8 miliar.
Pembiayaan yang berhasil disalurkan bank syariah juga meningkat 2 kali lipat menjadi Rp.39,7 triliun saat ini, dibandingkan dengan Rp.15,2 triliun pada tahun 2005. Sedangkan BPRS saat ini berhasil menyalurkan Rp.1,3 triliun. Pembiayaan ini meliputi akad Mudharabah, Musyarakah, Murabahah (porsi terbesar), Salam, Istishna’, Ijarah, Qardh, dan lain-lain.
Dari segi sektor ekonomi, pembiayaan bank syariah paling banyak disalurkan untuk jasa dunia usaha, diikuti sektor lain-lain kemudian diikuti oleh sektor perdagangan, hotel, restoran, konstruksi, pengangkutan, pergudangan, komunikasi, jasa sosial masyarakat, pertanian, kehutanan, pertanian, perindustrian, pertambangan, listrik, gas, dan air. Sementara dari segi penggunaan, pembiayaan bank syariah saat ini paling banyak disalurkan untuk modal kerja (53,8 %) diikuti oleh sektor konsumsi (25,5%) dan sektor investasi (20,7%). Bank Syariah masih sangat concern dengan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) sehingga lebih dari 70% pembiayaan disalurkan untuk sektor ini. Sisanya untuk non UKM.
Namun, bank syariah harus makin hati-hati dalam menyalurkan pembiayaan karena Non Performing Financing (NPF) bank syariah mengalami peningkatan dari 3,95% pada Desember 2008, menjadi 5,17% saat ini. Pada tahun-tahun sebelumnya, pembiayaan non lancar bank syariah ada di bawah 5%, yaitu 2,82% pada akhir 2005, 4,75% pada akhir 2006, dan 4,05% pada akhir 2007. Pembiayan non lancar BPRS lebih parah karena dari tahun ke tahun rata-rata mencapai lebih dari 8%, bahkan akhir tahun 2005 mencapai 10,9%.
Sementara Rasio Keuangan Bank Syariah adalah sebagai berikut: ROA (Return on Asset) mencapai 2,29%, ROE (Return On Equity) mencapai 58,25%, FDR (101,36) pembiayaan lebih besar daripada DPK, BOPO (Biaya Operasional dibandingkan dengan Pendapatan Operasional) mencapai 70,94%. Efektifkah?
Sumber: Statistik Perbankan Syariah April 2009, klik http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/889DF73B-6E42-4B09-9D9C-36EABCC97F1F/16919/sps_04091.pdf
About this entry
You’re currently reading “Gambaran Bank Syariah Saat Ini,” an entry on bener nih, bank Islam?
- Published:
- June 18, 2009 / 4:34 am
- Category:
- Pojok Kang iFh
- Tags:
No comments yet
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]