Jun
19

Ini Lho, Bank Syariah!

  • Judul Buku: Ini Lho, Bank Syariah!

  • Pengarang: Ahmad Ifham Solihin

  • Penerbit: Hamdalah ( PT.Grafindo Media Pratama)

  • Jumlah halaman: xii, 318 halaman

  • Penulis Resensi: Rocky Marcyano

Sumber: http://www.niriah.com/buku/5id17.html

Perbankan syariah dewasa ini tumbuh kian pesat. Tak hanya di dalam negeri, di negara lain banyak yang sudah menerapkan sistem ini. Sayangnya, tingkat pemahaman dan pengetahuan masyarakat kita tentang perbankan syariah masih belum merata dan maksimal.

Karenanya, benar belaka apa yang diungkapkan pakar ekonomi Islam Adiwarman Karim, bahwa perlu cara-cara extra ordinary untuk mensosialisasikan perbankan syariah kepada masyarakat. Seperti halnya buku ini yang ditulis dengan metoda penyampaian yang berbeda dari kebanyakan buku perbankan syariah pada umumnya.

Dalam buku yang berjudul “Ini Lho, Bank Syariah!”, penjelasan tentang seluk beluk perbankan syariah disajikan penulis secara naratif dalam bentuk dialog menggunakan bahasa sehari-hari. Gaya tulisan dengan teknik dialog atau obrolan seperti ini cenderung lebih mudah diikuti dan tentunya mudah difahami. “Buku ini lebih tepat disebut novel karena narasinya disusun dengan gaya bercerita,” ujar Presiden Direktur Bank Mega Syariah mengomentari.

Penjelasan seputar bank syariah, strategi bank syariah dan berbagai instrumen-instrumen dalam sistem keuangan dan perbankan syariah yang mungkin oleh kebanyakan masyarakat awam masih terdengar asing, semisal tentang sukuk, obligasi syariah, syariah charge card, line facility, dituturkan dengan mengalir lancar melalui obrolan Gus Ben, Pak Halim, Kang Pur dan Bang Ari — para tokoh rekaan di buku ini

Mereka berempat, dengan serius tapi santai membangun percakapan mengenai berbagai produk bank syariah. Gus Ben, yang menjadi narasumber dalam setiap obrolan, dengan fasih menjelaskan apa itu murabahah, istishna, salam, mudharabah, musyarakah, wakalah, rahn hingga ju’alah. Ia mengupas tuntas semuanya, mulai dari asal kata, syarat, rukun sampai ke contoh dan aplikasinya.

Jadi, seperti kata Mohammad Fauzil Adhim dalam komentarnya terhadap buku ini, “Buku ekonomi syariah, siapapun penulisnya secara prinsip sama. Tetapi bagaimana memahamkaan persoalan pelik ini menyederhanakan yang rumit tenpa kehilangan bobot adalah persoalan berbeda.”

Dalam hal tersebut, menyederhanakan yang rumit tanpa kehilangan bobot, buku yang ditulis Ahmad Ifham Solihin ini cukup berhasil.

Alhasil, buku ini pantas dipertimbangkan menjadi bagian penghuni perpustakaan pribadi anda. Selamat membaca!

 

Ini Lho, Bank Syariah!

Pengarang: Ahmad Ifham Solihin

Penerbit: Hamdalah, September 2008

Tebal: xii + 318 halaman

Sumber: http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/04/05/Buku/index.html

Beny Armand Reza punya segudang pengalaman kerja di bank dan konsultan keuangan syariah. Ini membuat dia paham benar soal keuangan syariah. Sosok Gus Ben–panggilan akrabnya–inilah yang dipakai Ahmad Ifham Solihin mengupas bank syariah dengan gaya novel. Lewat percakapan antara Gus Ben dan kenalannya itulah, dipaparkan konsep dan produk bank syariah, serta perkembangan bank jenis ini di Indonesia.

Boleh dibilang gaya novel dalam buku ini bisa menjadi alternatif dalam menjelaskan seluk-beluk bank syariah. Apalagi cara pengemasan Ahmad, yang membuat penjelasannya bak obrolan di warung kopi, membuat pembaca buku ini tak perlu banyak mengerutkan kening.

Pembahasaan gaya fiksi ini membuat isi buku terasa ringan. Meski begitu, Ahmad kelihatannya masih kesulitan saat harus membahas contoh yang menyertakan angka sehingga membuat bagian-bagian itu terkesan kaku dan rumit. Istilah-istilah perbankan juga dimuat tanpa penjelasan mendetail sehingga buku ini memang lebih cocok dibaca oleh kalangan yang sudah mafhum dengan dunia perbankan. OKTAMANDJAYA WIGUNA

MEMBEDAH BANK SYARIAH GAYA NOVEL

Posted by: oktawiguna on: April 2, 2009

Sumber: http://duniabuku.wordpress.com/2009/04/02/membedah-bank-syariah-gaya-novel/

Beny Armand Reza punya segudang pengalaman kerja di bank dan konsultan keuangan syariah.Ini membuat dia paham benar soal keuangan syariah.

Sosok Gus Ben inilah yang dipakai Ahmad mengupas bank syariah dengan gaya novel. Lewat percakapan antara Gus Ben dengan kenalannya itulah dipaparkan konsep dan produk bank syariah, serta perkembangan bank jenis ini di Indonesia.

Ada banyak pilihan menjelaskan hal-hal yang terbilang baru seperti perbankan syariah ini yang oleh beberapa penulis diakali dengan membanjiri dengan studi kasus atau menyampaikan lewat komik. Gaya novel dalam buku ini bisa menjadi alternatif apalagi cara pengemasan Ahmad yang membuat penjelasannya bak obrolan di warung kopi yang membacanya tak perlu banyak mengerutkan kening.

Pembahasaan gaya fiksi ini membuat isi buku terasa ringan namun Ahmad kelihatannya masih kesulitan saat harus membahas contoh yang menyertakan angka yang membuatnya bagian-bagian itu terkesan kaku dan rumit. Istilah-istilah perbankan juga dimuat tanpa penjelasan mendetil sehingga buku ini memang lebih cocok dibaca oleh kalangan yang sudah mafhum dengan dunia perbankan.

Ahmad sepertinya terlalu ingin menjelaskan semua hal sehingga semua ia masukkan ke dalam buku ini. Beberapa istilah perbankan ia asumsikan telah dipahami pembacanya bahkan langkah Ahmad yang membandingkan paham riba antar agama demi menguatkan argumentasinya pun terkesan kelewat dipaksakan karena tak dibubuhi penjelasan yang memadai ini bisa menyesatkan pembacanya pada kesan yang salah tentang agama lain.

Ini Lho, Bank Syariah!
Pengarang: Ahmad Ifham Solihin
Penerbit: Hamdalah, September 2008
Tebal: xii + 318 halaman

Jun
18

Perkembangan bank syariah di Indonesia sangat luar biasa, baik dari segi jumlah bank, jaringan, nasabah, dan jumlah aset. Tumbuh kembang bank syariah di Indonesia diawali dengan berdirinya Bank Muamalat pada tahun 1992. Pada pertengahan tahun 2003, sudah terdapat 8 bank syariah dengan total aset Rp.5,4 triliun. Saat ini (2009) terdapat 30 bank syariah dengan total aset mencapai lebih dari Rp.50 triliun. Jumlah bank dan total aset tersebut di luar Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS).

Jumlah jaringan bank syariah (termasuk BPRS) saat ini mencapai 1.104 kantor, meningkat 2 kali lipat dibandingkan dengan jumlah jaringan pada tahun 2005 yang masih sekitar 550 kantor. Sementara untuk Office Channeling (Unit Pelayanan Syariah di bank konvensional) mengalami peningkatan tajam dari 456 kantor pada tahun 2006 menjadi 1.618 kantor saat ini. Jumlah tersebut belum termasuk kantor pos yang menjadi Gerai Muamalat.

Seiring dengan perkembangan jaringan, kebutuhan SDM juga semakin meningkat. Tercatat ada 5.996 SDM yang bekerja di perbankan syariah pada tahun 2005, dan meningkat lebih dari 2 kali lipat pada tahun ini menjadi 13.385. Untuk biaya pendidikan SDM bank syariah, rata-rata mencapai Rp.20 miliar (dari tahun 2005 – 2008). Saat ini bank syariah telah menghabiskan dana Rp.10 miliar untuk pendidikan SDM.

Biaya promosi bank syariah dari tahun ke tahun juga mengalami peningkatan. Pada akhir tahun 2005, bank syariah menghabiskan Rp.68 miliar untuk biaya promosi, kemudian pada akhir 2006 mencapai Rp.91 miliar, pada akhir tahun 2007 mencapai Rp.137 miliar, dan pada akhir tahun 2008 mencapai Rp.184 miliar. Saat ini (data April 2009), bank syariah telah mengeluarkan biaya promosi sebesar Rp.47 miliar. Semoga bank syariah semakin concern untuk meningkatkan biaya, serta strategi promosi dan komunikasi yang tepat.

Pelan tapi pasti, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun oleh bank syariah meningkat 2 kali lipat menjadi Rp.39 triliun dibandingkan dengan DPK tahun 2005 yang mencapai Rp.15,6 triliun. DPK BPRS juga mengalami peningkatan dari Rp.334 miliar pada tahun 2005 menjadi Rp.1,1 triliun. DPK ini meliputi Giro (Wadiah), Tabungan, dan Deposito. Penempatan pada Bank Indonesia, saat ini mencapai Rp.6 miliar (meliputi Giro Wadiah dan Surat Berharga Syariah Indonesia). Semantara Surat Berharga yang dimiliki bank syariah (meliputi Surat Berharga Pasar Keuangan Syariah dan Surat Berharga Pasar Modal Syariah) mencapai Rp.2,8 miliar.

Pembiayaan yang berhasil disalurkan bank syariah juga meningkat 2 kali lipat menjadi Rp.39,7 triliun saat ini, dibandingkan dengan Rp.15,2 triliun pada tahun 2005. Sedangkan BPRS saat ini berhasil menyalurkan Rp.1,3 triliun. Pembiayaan ini meliputi akad Mudharabah, Musyarakah, Murabahah (porsi terbesar), Salam, Istishna’, Ijarah, Qardh, dan lain-lain.

Dari segi sektor ekonomi, pembiayaan bank syariah paling banyak disalurkan untuk jasa dunia usaha, diikuti sektor lain-lain kemudian diikuti oleh sektor perdagangan, hotel, restoran, konstruksi, pengangkutan, pergudangan, komunikasi, jasa sosial masyarakat, pertanian, kehutanan, pertanian, perindustrian, pertambangan, listrik, gas, dan air. Sementara dari segi penggunaan, pembiayaan bank syariah saat ini paling banyak disalurkan untuk modal kerja (53,8 %) diikuti oleh sektor konsumsi (25,5%) dan sektor investasi (20,7%). Bank Syariah masih sangat concern dengan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) sehingga lebih dari 70% pembiayaan disalurkan untuk sektor ini. Sisanya untuk non UKM.

Namun, bank syariah harus makin hati-hati dalam menyalurkan pembiayaan karena Non Performing Financing (NPF) bank syariah mengalami peningkatan dari 3,95% pada Desember 2008, menjadi 5,17% saat ini. Pada tahun-tahun sebelumnya, pembiayaan non lancar bank syariah ada di bawah 5%, yaitu 2,82% pada akhir 2005, 4,75% pada akhir 2006, dan 4,05% pada akhir 2007. Pembiayan non lancar BPRS lebih parah karena dari tahun ke tahun rata-rata mencapai lebih dari 8%, bahkan akhir tahun 2005 mencapai 10,9%.

Sementara Rasio Keuangan Bank Syariah adalah sebagai berikut: ROA (Return on Asset) mencapai 2,29%, ROE (Return On Equity) mencapai 58,25%, FDR (101,36) pembiayaan lebih besar daripada DPK, BOPO (Biaya Operasional dibandingkan dengan Pendapatan Operasional) mencapai 70,94%. Efektifkah?

Sumber: Statistik Perbankan Syariah April 2009, klik http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/889DF73B-6E42-4B09-9D9C-36EABCC97F1F/16919/sps_04091.pdf

Jun
14

Yuslam Fauzi (Dirut Bank Syariah Mandiri) pernah memaparkan bahwa ada 111 ayat Quran yg secara eksplisit membahas tentang kesejahteraan umat, zakat, dho’if, kaum lemah, kemiskinan; 7 ayat tentang riba; 2 ayat tentang maysir, 1 hadits tentang gharar.

Riba, gharar, maysir inilah yang menurut saya biasa dijadikan sebagai isu sentral bagi penggiat/praktisi bank syariah. Namun, tak jarang saya temui bahwa isu kesejahteraan dan pemberdayaan ekonomi umat jelata, kemiskinan, pro umat yang lemah justru merupakan isu sentral bagi mereka non penggiat/praktisi bank syariah.

Sebagai entitas bisnis, bank syariah memang HARUS bisa dapet profit untuk menyejahterakan karyawannya. Bagi para praktisi bank syariah, inilah salah satu alasan mereka berjuang. Tentu itu bisa dimaklumi sebelum bank syariah menyejahterakan masyarakat.

Ada hal menarik yang teramati yaitu dalam hal pembukaan jaringan bank syariah (terutama yang berkantor pusat di Jakarta) adalah selanjutnya mereka akan membuat counter masih di seputaran Jakarta, dan atau di kota-kota besar Ibu Kota Propinsi, atau di perkotaan yang sudah maju. Dan biasanya alasan pembukaan cabang didasarkan pada ADA TIDAKNYA MARKET (yang berduit).

Sampai saat ini belum ada bank syariah yang berani menjadikan KEBUTUHAN umat jelata sebagai prioritas UTAMA. Karena alasan SDM, IT, atau keterbatasan ini itu?

Jun
14

WORK EXPERIENCE
PT Anabatic Technologies Indonesia (2009 – present)
PT Multipolar, Tbk. (2008 – 2009)
Batasa Tazkia Consulting (2007 – 2008)
KARIM Business Consulting (2003 – 2007)

Qualified In:
Business Analyst; Sharia Banking (IT, Business & Corporate Plan, Standard Operating Procedure, Project Planning, Project Management, Recruitment & Assessment); Training in sharia banking; Business (Development); Marketing; Marketing Research; Marketing Communications, Public Relations, Media Relations; Events Organizing

Book:
Ini Lho, Bank Syariah! (GRAFINDO MEDIA PRATAMA, 1st Edition: September 2008)

Published Articles:
- Optimisme Pertumbuhan Bank Syariah (BISNIS INDONESIA, 19th April 2007)
- Faktor Penentu Pertumbuhan Bank Syariah (REPUBLIKA, 28th March 2007)
- Strategi Bank Syariah Merebut Hati Nasabah (REPUBLIKA, 7th July 2006)

Education:
1985 – 1991 : Madrasah Ibtidaiyah Roudhatusysyubban, Tawangrejo, Winong
1988 – 1994 : Madrasah Diniyah Roudhatusysyubban, Tawangrejo, Winong
1991 – 1994 : Madrasah Tsanawiyah Negeri, Winong, Pati
1994 – 1997 : SMU Negeri 1, Pati, Jateng
1998 – 2002 : Department of Psychology, Gadjah Mada University

Personal Information:
Birth : Pati, 18th April 1980
Email : ahmadifham@yahoo.com or ahmad.ifham@anabatic.co.id
Website : http://bankbagihasil.wordpress.com
Cell. : 0878-7733-8808 or 021-91383921
Hobbies & Interest : Music, Chess, Arabic Calligraphy, Guitar, Football, Singing, Writing

Jun
14

Bisnis Indonesia, 19 April 2007

Optimisme Pertumbuhan Bank Syariah

Oleh: Ahmad Ifham, Business Development Executive KARIM Business Consulting

Pertumbuhan bank syariah dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Dinamika pertumbuhan bank syariah ini bisa dicermati dari data yang dipublikasikan oleh BI.

Pada akhir tahun 1999, total aset bank syariah di Indonesia baru mencapai Rp 1,12 triliun atau sekitar 0,11% dari pangsa pasar. Saat itu baru ada Bank Muamalat yang didirikan pada tahun 1992, Bank Syariah Mandiri (BSM) dan Unit Usaha Syariah Bank IFI yang mulai menjalankan operasional perbankan syariah pada tahun 1999. 

Pada Desember 2002, total aset bank syariah mencapai peningkatan pesat sebesar 261,18% dibandingkan tiga tahun sebelumnya menjadi Rp 4,05 triliun. Pada saat itu sudah ada dua Bank Umum Syariah (BUS) dan enam Unit Usaha Syariah (UUS). Setahun kemudian, dengan jumlah total dua BUS dan delapan UUS, total aset bank syariah per Desember 2003 naik 94,28% dari tahun sebelumnya menjadi Rp 7,86 triliun.

Pada 16 Desember 2003, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang haramnya bunga bank yang menyebabkan terjadinya unorganic growth. Hingga Desember 2004, total bank syariah menjadi tiga BUS dan 15 UUS dengan kenaikan total aset 95,01% dari tahun sebelumnya menjadi Rp 15,33 triliun. Pada akhir tahun 2005, dengan total tiga BUS dan 19 UUS, total aset bank syariah meningkat 36,24% dari tahun sebelumnya menjadi Rp 20,88 triliun (1,4 persen dari pangsa pasar).

Setahun kemudian jumlah bank syariah menjadi tiga BUS dan 20 UUS dengan kenaikan total aset 27,98% dari tahun sebelumnya menjadi Rp 26,72 triliun (1,58 persen dari pangsa pasar).

Bank Syariah diperkirakan akan terus tumbuh secara signifikan. Pada Februari 2007, dengan total tiga BUS dan 21 UUS, total aset bank syariah mencapai Rp 27,69 triliun atau 1,6% dari pangsa pasar. Total dana pihak ketiga Rp 21,05 triliun, dan total pembiayaan Rp 20,46 triliun (FDR 97,19%) dengan NPF yang makin mengkhawatirkan yaitu 5,54%. Sebagian kalangan masih memaklumi adanya peningkatan NPF sebagai akibat dari meningkatnya ekspansi bisnis bank syariah.

Faktor Pendukung

Sementara itu, dalam program akselerasinya, BI optimistis menargetkan total aset bank syariah mencapai 5% dari pangsa pasar pada tahun 2008. Optimisme pertumbuhan bank syariah ini masih realistis mengingat ada beberapa hal yang mendukung pertumbuhan perbankan syariah. 

Pertama, potensi pangsa pasar yang luas dan masih belum tergarap secara optimal. Hampir 88% dari sekitar 230 juta penduduk di Indonesia adalah muslim. Saat ini juga sudah banyak masyarakat non-Muslim yang menggunakan produk dan layanan bank syariah, bahkan tak sedikit dari mereka yang menjadi karyawan bank syariah. 

Selain potensi dana dari masyarakat, ada potensi dana investasi timur tengah (Timteng) yang diperkirakan mencapai US$250 miliar sampai US$500 miliar. Investor Timteng menghendaki adanya produk/instrumen syariah yang bisa menampung investasi mereka di Indonesia. 

Ini merupakan kesempatan yang bagus bagi pelaku bisnis perbankan syariah di Indonesia dengan terus mengembangkan produk/instrumen, mempersiapkan infrastruktur, menciptakan iklim investasi yang aman dan nyaman, serta menentukan strategi bisnis yang sesuai dengan kebutuhan mereka. 

Kedua, bank syariah sangat concern untuk mewujudkan SDM bank syariah yang handal serta meningkatkan kewenangan dari sisi Human Resource Management maupun Human Resource Development.  

Pada proses seleksi dan asesmen karyawan, beberapa bank syariah sudah menggunakan tool dan assessment khusus untuk memenuhi kebutuhan karyawan dengan kualifikasi yang sesuai dengan iklim bisnis perbankan syariah. 

Bank syariah secara kontinyu sudah memberikan pelatihan tentang perbankan syariah, tentang produk bank syariah dan pengembangannya, di samping pelatihan soft skill. Di samping itu, SDM yang mampu mengetahui sistem perbankan syariah juga sudah mulai banyak tersedia di pasar. 

Ketiga, bank syariah melakukan layanan prima kepada nasabah. Berbagai macam pelatihan layanan prima telah diberikan kepada para karyawan bank syariah. Sebagian besar bank syariah sudah memiliki standar layanan bank konvensional yang notabene sudah mapan dan dipercaya oleh nasabah terkait. 

Keterampilan layanan prima ini juga telah diimbangi dengan ekspansi jaringan yang bisa memberikan akses dan layanan yang menjangkau berbagai wilayah. Kebijakan office channeling merupakan salah satu kebijakan yang sangat menunjang bagi terjangkaunya layanan bank syariah ke berbagai wilayah. 

Sejak dimulainya kebijakan ini pada Maret 2006, saat ini terdapat hampir 450 kantor yang melayani office channeling dengan total dana yang dihimpun sekitar Rp 150 miliar. Tahun ini beberapa bank akan membuka layanan perbankan syariah sehingga hal ini akan menambah kemudahan akses dan ragam layanan perbankan syariah. 

Bank syariah juga sudah menggunakan sistem teknologi informasi (TI) yang proven dan terstandardisasi yang menyediakan berbagai fitur layanan perbankan syariah sehingga bisa memberikan kemudahan bagi nasabah untuk bertransaksi dengan cepat dan akurat. Saat ini bank tersebut sudah mulai memberikan layanan mobile banking bagi nasabahnya. 

Keempat, bank syariah sangat concern untuk terus melakukan pengembangan dan inovasi produk yang kompetitif, menguntungkan, dan menarik minat nasabah. Tentu sangat penting untuk melakukan riset kebutuhan dan perilaku nasabah terhadap produk-produk bank syariah. 

Saat ini produk bank syariah yang paling diminati (dengan hampir 2 juta nasabah) adalah tabungan (mudharabah), namun volume terbesar dana pihak ketiga berasal dari deposito (mudharadah) yang mencapai 52,01 persen. Sedangkan pembiayaan terbesar adalah untuk jasa dunia usaha, perdagangan, restoran, dan hotel yang mencapai 41,61 persen. 

Kelima, bank syariah semakin proaktif meningkatkan intensitas dan kualitas sosialisasi perbankan syariah dengan gencar, kreatif, dan terarah. Saat ini setiap bank syariah sudah memiliki public relation officer dan sejenisnya yang in-charge untuk program-program sosialisasi. 

Sosialisasi yang efektif tentu memerlukan strategi yang tepat menyentuh sisi kognisi, afeksi, dan konasi dengan melakukan aktivasi sampai masyarakat benar-benar menggunakan produk dan layanan bank syariah.

 

REPUBLIKA, Rabu, 28 Maret 2007

Faktor Penentu Pertumbuhan Bank Syariah
Oleh: Ahmad Ifham

Business Development Executive KARIM Business Consulting.

Lima belas tahun setelah berdirinya Bank Muamalat, total aset bank syariah di Indonesia mencapai Rp 26,95 triliun atau sekitar 1,58 persen dari market share. Total dana pihak ketiga (funding) mencapai Rp 20,51 triliun. Sedangkan total Pembiayaan (financing) mencapai Rp 20,22 triliun (FDR 98,6 persen) dan NPF yang cukup mengkhawatirkan yaitu 5,17 persen.

Dalam program akselerasinya, BI menargetkan aset bank syariah mencapai 5 persen dari market share pada tahun 2008. Optimisme peningkatan pertumbuhan dan perkembangan bank syariah ini cukup realistis, namun harus didukung oleh beberapa faktor penentu. Pertama adalah faktor Sumber Daya Manusia (SDM) yang andal. Industri perbankan syariah yang makin berkembang pesat harus diimbangi dengan penyediaan dan peningkatan kualitas SDM syariah. 

Kenyataan di lapangan, saat ini masih banyak SDM bank syariah yang belum memiliki pengetahuan dan pengalaman yang baik dalam menjalankan operasional bank syariah. Tak jarang ditemui bahwa SDM bank syariah kurang bisa memberikan penjelasan yang benar dan akurat, sehingga akan menimbulkan keraguan bagi calon nasabah untuk menggunakan produk dan layanan bank syariah. Bahkan penjelasan yang sembrono akan memunculkan anggapan keliru tentang bank syariah, sehingga akan memengaruhi citra bank syariah. 

Peningkatan kualitas SDM bank syariah bisa dilakukan dengan memberikan training hard skill tentang product knowledge secara kontinyu, dan secara periodik melakukan pembahasan atas permasalahan yang muncul di lapangan, dan memberikan pembekalan keterampilan soft skill kepada mereka. SDM yang ditempatkan di bank syariah sebaiknya adalah mereka yang memang memiliki semangat, kesungguhan, dan kompetensi untuk berkarir di bank syariah. Mereka memiliki nilai lebih karena harus bisa memahami sistem perbankan syariah yang notabene adalah sistem yang baru dan belum begitu familiar di masyarakat. 

Faktor kedua adalah layanan prima (excellent service). Agar bisnis tetap berjalan, bank syariah harus bisa memberikan layanan yang excellent kepada nasabah. Nasabah harus dimengerti dan dilayani selangkah ke depan dari apa yang mereka harapkan. Kepuasan nasabah akan menimbulkan loyalitas nasabah dalam menggunakan produk dan layanan bank syariah. Untuk itu, SDM bank syariah di semua lini perlu memiliki keterampilan excellent service

Layanan prima juga sangat ditunjang oleh kemudahan akses dan layanan berupa sistem teknologi informasi yang proven dan bisa memberikan berbagai fitur, fasilitas layanan yang memudahkan nasabah melakukan berbagai transaksi, misalnya dengan mobile banking. Adanya jaringan kantor yang bisa menjangkau ke berbagai pelosok daerah akan sangat memudahkan nasabah bisa melakukan transaksi dengan cepat dan akurat. 

Office channeling merupakan salah satu kebijakan yang sangat menunjang bagi terjangkaunya layanan bank syariah ke berbagai wilayah. Sejak dimulainya kebijakan ini pada Maret 2006, saat ini sudah ada lebih dari 400 kantor yang melayani office channeling dengan total dana yang dihimpun lebih dari Rp 130 miliar. 

Faktor ketiga adalah produk bank syariah yang kompetitif, dan menarik. Potensi diferensiasi, inovasi, keunikan, fungsi manfaat, dan keuntungan yang bisa didapat dari produk dan layanan bank syariah merupakan hal yang bisa menarik minat nasabah untuk memakainya.

Saat ini produk bank syariah yang paling diminati (dengan hampir 2 juta nasabah) adalah tabungan (mudharabah), namun volume terbesar dana pihak ketiga berasal dari deposito (mudharadah) yang mencapai 51,98 persen. Sedangkan pembiayaan terbesar adalah untuk jasa dunia usaha, perdagangan, restoran, dan hotel yang mencapai 44,7 persen. 

Faktor keempat adalah peningkatan intensitas, kuantitas, dan kualitas sosialisasi. Sosialisasi bisa dimulai dengan memberikan awareness kepada masyarakat tentang perbankan syariah, membangun citra, dan dilanjutkan dengan kampanye sampai ke berbagai pelosok daerah dengan menggunakan strategi yang tepat dan mengoptimalkan berbagai media yang ada. 

Adalah langkah yang positif jika saat ini di Indonesia sudah dibentuk Sharia PR Club. Setiap bank syariah juga sudah memiliki public relation officer atau sejenisnya yang in charge untuk program sosialisasi pada masing-masing institusi. Namun langkah ini tidak akan efektif jika tidak didukung dengan semangat kesungguhan dan kebersamaan dari berbagai pihak yang terkait untuk memajukan perbankan syariah sebagai sebuah industri dan bisnis. 

Sosialisasi ini harus menyentuh semua sisi kognisi, emosi, dan konasi dengan melakukan aktivasi, sampai masyarakat benar-benar memakai produk dan layanan bank syariah. Bank syariah harus bisa proaktif menjemput bola baik untuk nasabah perorangan maupun korporasi. Dari sisi bisnis, program-program sosialisasi yang dijalankan dibuat sedemikian rupa sehingga bisa menghasilkan output yang bisa memberikan outcome bagi perusahaan. Program sosialisasi yang bagus tentunya bukan sekadar publikasi, namun bisa mendatangkan outcome dan profit bagi bank syariah. 

Regulasi BI yang terus disesuaikan dengan kondisi dan prospek perbankan syariah ke depan, adanya dukungan dari pemerintah dan parlemen, performance ekonomi makro yang baik, dan faktor lain akan sangat menunjang laju pertumbuhan dan perkembangan industri perbankan syariah. Jika berbagai faktor tersebut diperhatikan dan dioptimalkan, bank syariah akan menjadi daya tarik dan pilihan utama bagi nasabah, baik yang perorangan, korporasi, maupun para investor. Bukan tidak mungkin, industri perbankan syariah akan mengalami peningkatan yang sangat cepat dari yang diperkirakan (unorganic growth).

 

REPUBLIKA, Jumat, 07 Juli 2006 hlm 24
Strategi Bank Syariah Merebut Hati Nasabah
Oleh: Ahmad Ifham

Meskipun populasi Indonesia mayoritas Muslim, tidak mudah bagi perbankan syariah merebut hati nasabah. Masyarakat terlalu lama bersentuhan dengan perbankan konvensional sehingga banyak mempertanyakan perbankan syariah.

Hingga Maret 2006, aset bank syariah mencapai Rp 20.55 triliun atau baru 1.4 persen dibandingkan total aset bank konvensional. Sebagian dari kita menyadari bahwa sistem perbankan nonribawi atau sistem perbankan syariah lebih adil dan jauh dari unsur eksploitasi dan spekulasi. Namun, bukanlah hal yang mudah bagi bank syariah untuk merebut hati nasabah (personal maupun korporasi). Perlu strategi dan langkah yang sistematis, sosialisasi dan kampanye yang kontinyu serta dukungan dari berbagai pihak yang terkait seperti pemerintah, parlemen, Departemen Keuangan, Bank Indonesia, Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI, Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES), Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), konsultan, praktisi dan pihak-pihak lain yang terkait.

Strategi bank syariah untuk merebut hati nasabah ini bisa dilakukan dalam tiga tahapan. Pertama, dimulai dengan menyentuh sisi kognisi nasabah yaitu memberikan sosialisasi edukatif tentang ‘realitas’ sistem dan produk perbankan syariah kepada nasabah melalui publikasi di berbagai media cetak, elektronik maupun dalam bentuk gathering, talkshow dan seminar publik. Pada tahapan ini diharapkan masyarakat mampu mengetahui dan aware tentang sistem perbankan syariah dan bagaimana sistem itu diterapkan. Diharapkan masyarakat juga memahami fungsi keberadaan perbankan syariah dari sisi personal maupun sosial.

Tahap kedua adalah menyentuh sisi emosional nasabah dengan memberikan gambaran menyeluruh tentang manfaat dan keuntungan memakai sistem perbankan syariah dari sisi bisnis (profit) maupun spirit sehingga masyarakat merasa bahwa sistem dan produk perbankan syariah ini memang baik dan layak untuk dipakai. Pada tahapan inilah yang dalam strategi public relation disebut dengan tahap pembentukan citra bank syariah dalam benak nasabah.

Hal terpenting yang harus dilakukan dalam tahap ini adalah perbankan syariah terlebih dulu memahami kebutuhan nasabah yang bisa dilakukan dengan riset pasar (marketing research). Setelah memahami apa yang menjadi kebutuhan nasabah, dilakukan strategi pembentukan citra bank syariah yang fokus, kreatif, dan konsisten.

Pembentukan citra bank syariah dimulai dengan memetakan persepsi masyarakat tentang perbankan syariah. Citra bank syariah yang ada dalam benak masyarakat bisa dioptimalkan menjadi titik pembangkit citra yang diinginkan.

Citra bank syariah yang diinginkan ini dibentuk dari realitas mendasar dan kredibel dari kondisi perkembangan perbankan syariah yang telah ada. Pembentukan citra yang tidak didasari dengan informasi realitas dengan kredibilitas tinggi tentu akan menghasilkan citra yang lemah. Karena akan muncul banyak celah yang bisa dilihat oleh publik, termasuk pihak lain yang memiliki kepentingan berseberangan, untuk dengan mudah mengubah citra menjadi negatif.

Untuk meningkatkan citra yang baik yang melekat pada perbankan syariah, perlu juga institusi perbankan syariah melakukan kegiatan sosial, mengembangkan program-program pengembangan masyarakat sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan kepada publik yang biasanya disebut dengan corporate social responsibility.

Citra bank syariah juga sangat dipengaruhi oleh sistem perbankan syariah itu sendiri, product knowledge para praktisi perbankan syariah maupun sikap dan perilaku sesuai syariah yang ditunjukkan para praktisi kepada nasabah.

Tahap ketiga adalah tahap aktivasi yang menyentuh sisi konasi nasabah dengan menggerakkan nasabah sampai mereka benar benar menggunakan sistem dan produk bank syariah. Keberadaan regulasi office channeling, sistem aplikasi IT yang proven untuk bank syariah, SDM (Sumber Daya Manusia) perbankan syariah yang handal, harus diimbangi dengan strategi persuasif dari semua pihak yang terkait dalam sistem perbankan syariah untuk mengajak masyarakat menggunakan sistem dan produk bank syariah, misalnya dengan mengadakan kampanye dan berbagai kegiatan massal di berbagai daerah seperti kegiatan Expo serta pemberian fasilitas lain yang memudahkan masyarakat untuk menjangkau layanan bank syariah. CEO gathering juga bisa dioptimalkan untuk menjaring nasabah korporasi.

Dengan strategi komprehensif yang melibatkan sisi kognisi, emosi, dan konasi nasabah (baik nasabah personal maupun korporasi), diharapkan perbankan syariah bisa tumbuh kembang dengan pesat dan bermanfaat bagi nasabah, sehingga nasabah bisa menjadikan sistem dan produk bank syariah sebagai sesuatu yang “good-and-for-me”.

Jun
14

Buku        : Ini Lho, Bank Syariah!

Cetakan I : September 2008

Penulis     : Ahmad Ifham Sholihin, S.Psi.

Penerbit   : Grafindo Media Pratama

Tebal       : 319 + xi Halaman

 

 

Pengantar:

Ir. H. Adiwarman Azwar Karim, SE., MBA., MAEP (President Director KARIM Business Consulting):

Pertumbuhan perbankan dan keuangan syariah yang luar biasa, harusnya dibarengi oleh pertumbuhan pemahaman masyarakat yang juga luar biasa. Agar nanti, sistem luhur ini tidak mengalami kesenjangan pemahaman di masyarakat akibat minimnya sosialisasi dan edukasi.

Salah satu kendala minimnya pemahaman masyarakat tentang perbankan syariah di Indonesia adalah karena masih sedikitnya literatur yang mengkaji tentang ekonomi dan keuangan Islam. Kalaupun ada, literatur tersebut masih sulit dipahami masyarakat. Karena penyajiannya masih terkesan dogmatik, formal, dan menggunakan istilah yang “asing” menurut kacamata masyarakat. Hal ini mengakibatkan kajian-kajian mengenai ekonomi Islam seakan “sulit tersentuh” oleh sebagian besar orang.

Buku yang hadir di hadapan anda, merupakan sebuah karya cerdas dan renyah yang dihasilkan oleh anak muda yang peduli dengan pengembangan perbankan syariah di Indonesia. Buku ini, menurut saya adalah buku kreatif yang baru pertama kali saya lihat dalam sejarah literatur ekonomi syariah di dunia dengan tidak mengurangi sedikitpun esensi konsep dan praktik perbankan syariah. Hal ini menjadikan buku ini semakin memperkaya khazanah literatur keuangan (perbankan) syariah di tanah air, serta menjadi buku yang  cukup “mengena” dalam mendidik masyarakat.

Memang perlu cara-cara yang extraordinary dalam mensosialisasikan perbankan syariah ke masyarakat. Dan Sdr. Ahmad Ifham Solihin berupaya menempuh jalan itu. Jalan di mana pembaca tidak harus merasa “tergurui langsung” oleh penulis buku yang sedang dibacanya. Penulis sadar betul bahwa konsep luhur ini harus dibawakan dengan sajian yang menarik bagi masyarakat. Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah engkau berbicara dengan suatu kaum dengan bahasa yang akal mereka tidak bisa menjangkaunya, kecuali akan menjadi fitnah bagi sebagian mereka.”(HR. Muslim).

Kita semua berharap ada lebih banyak lagi literatur yang lebih kreatif, inovatif, dan segmentatif dalam proses pembumian ekonomi Islam di tanah air. Buku yang “beda” ini juga diharapkan dapat menjadi pintu gerbang kreatifitas bagi para akademisi, praktisi, ataupun mereka-mereka yang peduli terhadap pengembangan ekonomi syariah untuk berlomba-lomba berkarya dalam mengedukasi masyarakat.

Akhirnya, selamat menikmati obrolan dalam buku yang “renyah” ini. 

 

Testimony:

“Buku Mas Ifham ini luar biasa karena isi dan bingkainya. Secara isi buku Ini Lho Bank Syariah! mencakup berbagai hal tentang produk penghimpunan dana, pembiayaan, jasa-jasa keuangan dan berbagai instrument investasi lainnya. Dari sisi bingkai dipilih gaya novel dan cerita sehingga Bank Syariah dapat difahami dengan relax.” (Dr. Muhammad Syafi’i Antonio, M.Ec. – Pakar Ekonomi Syariah & Pimpinan Tazkia Group).

“Buku ini lebih tepat disebut novel karena narasinya disusun dengan gaya bercerita. Semula saya kurang tertarik karena menghabiskan waktu yang cukup banyak untuk mengetahui isinya, namun setelah didalami lebih lanjut ada sesuatu inside informasi yang kita dapatkan dari membaca buku ini yang berbeda dengan buku perbankan syariah yang lain, terutama dalam hal pemahaman aplikasi. Keasyikan dan kesabaran akan membawa pendalaman pengetahuan.” (Beny Witjaksono – President Director Bank Mega Syariah).

“Buku Ekonomi Syariah, siapa pun penulisnya, secara prinsip sama. Tetapi bagaimana memahamkan persoalan pelik ini, menyederhanakan yang rumit tanpa kehilangan bobot, adalah persoalan yang berbeda. Dan berbahagialah Anda, Ifham telah melakukannya. Buku ini menyajikan masalah ekonomi syariah secara cair mengalir dan komunikatif.” (Mohammad Fauzil Adhim – Penulis Buku-buku Best Seller).

“Sebuah buku yang menjelaskan perbankan Syariah sehingga mudah dimengerti tidak hanya secara teoritis tetapi juga implementasinya dalam konteks produk-produk perbankan Syariah. Hal yang menarik bahwa pembahasan juga mencakup hal-hal yang up-to-date seperti Sukuk, produk-produk perbankan seperti Kartu Kredit dan juga Charge Card yang merupakan inovasi dalam perbankan Syariah. Secara khusus juga terdapat pembahasan dalam strategi IT di perbankan Syariah, yang memberikan pemaparan (overview) yang unik dalam melihat trend Outsourcing (alih daya) dalam pengelolaan IT. Secara keseluruhan saya akui buku ini memberikan terobosan dalam cara penyajian dan juga penjelasan yang gamblang bagi masyarakat umum mengenai Perbankan Syariah.” (Sujanto Halim – Senior Vice President, Head of Banking Solution Business Unit PT Multipolar Tbk. – Group LIPPO). 

“Mbaca buku ini kayak makan kacang. Belum puas klo belum bener-bener habis. Alhamdulillah, dengan buku ini aku lebih mudah memahami prinsip-prinsip bank syariah yang lumayan njlimet itu.” (Imam Muttaqin – Ilmu Komunikasi, FISIP UGM – Peneliti: Rasionalisasi Nilai Spiritual Bank Syariah; Studi Kasus di Bank Mega Syariah).